Kamis, 20 Oktober 2011

PANGERAN SAMUDRA PUTRA DAHA

Pangeran Samudra Putra Daha 

 

 

Putri Junjung Buih yang ditemukan oleh Lambung Mangkurat ketika bertapa diyakini adalah putri Dayak yang hanyut, Cuma ada dua versi apakah Dayak Bukit atau Dayak Deyah. Oleh Lambung Mangkurat dikawinkan dengan Raden Putera seorang Pangeran dari Majapahit. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencari raja baru yang berdarah ningrat, karena Lambung Mangkurat hanya anak seorang saudagar yang tak pantas menjadi raja menurut keyakinan waktu itu. Setelah menjadi raja Raden Putra bergelar Pangeran Suryanata.
Masa kejayaan kerajaan Kauripan yang beribukota di Negara Dipa (Amuntai) mulai surut hal ini diyakini karena ibukota sudah tidak layak lagi, maka pusat kerajaan dipindahkan ke Daha pada masa maharaja Sukarama. Sesuai wasiat beliau yang menggantikan beliau ketika wafat seharusnya putra raja yang bernama Pangeran Samudra, namun Pangeran Samudra masih kecil. Suhu politik yang tidak stabil diambil kesempatan pamannya yang bernama Pangeran Tumenggung.
Untuk menghindari pertumpahan darah Pangeran Samudra dilarikan oleh Mangkubumi Aria Tranggana melalui jalur Muara Sungai Bahan menuju ke Serapat, yang pada akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di Muara Barito.
Di aliran Sungai Barito terdapat beberapa kampung diantaranya adalah kampung Banjar. Sebuah perkampungan Melayu yang dibentuk lima buah sungai, yaitu Sungai Pandai, Sungai Sigaling, Sungai Keramat, Sungai Jagabaya dan Sungai Pageran (sekarang disebut Sungai Pangeran). Kelimanya anak Sungai Kuin.
Kampung Banjar terletak diantara perkampungan Oloh Ngaju di hilir Barito. Oleh orang orang Dayak Ngaju orang orang Melayu disebut dengan Masih, dari sinilah lahir kata Banjarmasih. Dipimpin oleh seorang patih dengan sebutan Patih Masih.
Atas prakarsa Patih Masih beberapa perkampungan disekitar kampung Banjar bersatu dengan kesepakatan beberapa patih diantaranya Patih Balit, Patih Muhur,  Patih Balitung dan Patih Kuin. Walaupun yang memprakarsai adalah Patih Masih tapi ia tak mau menjadi pemimpin, justru mereka sepakat mencari Pangeran Samudra yang bersembunyi di Balendaan, Serapat dengan tujuan utama memisahkan diri dari kerajaan Daha.
Di Jawa ketika itu juga terjadi pergeseran yang luar biasa, kerajaan Islam Demak mencapai masa kejayaannya. Pangeran Samudra minta bantuan ke Demak untuk meruntuhkan kejayaan kerajaan Daha. Kerajaan Demak sendiri menyetujui dengan syarat para pemimpinnya harus masuk Islam dan Islam menjadi agama resmi kepemerintahan.
Persyaratan itu disetujui, dan Demak pun mengirim bantuan yang akhirnya dapat meruntuhkan kejayaan kerajaan Demak. Peristiwa yang terjadi pada abad 16 M ini sangat penting karena menjadi tonggak sejarah di Kalimantan dari masa keemasan Hindu-Bhuda menjadi Islam. Sebagai simbolnya adalah masuknya Pangeran Samudra ke Islam dan berganti nama dengan sebutan Pangeran Suriansyah, juga dengan sebutan lain Panembahan atau Susuhunan Batu Habang. Yang mengislamkan Penghulu Demak Rahmatullah yang diwakilkan ke Khatib Dayan pada tanggal 24 September 1526 M atau 8 Dzulhijjah 932 H.
Islam berkembang pesat di Kalimantan Selatan, sampai akhirnya datang VOC. Diperkirakan Pangeran Suriansyah meninggal 24 tahun setelah memeluk Islam sekitar tahun 1550 M 
 
 
By WWW.SEPUTAR-NEGARA.BLOGSPOT.COM
 

1 komentar: